Catatan Si Boy
Bagi saya, membaca buku Catatan Si Boy a.k.a Raden Mas Probo Aryo Djoyodiningrat merupakan pengalaman masuk ke dalam mesin waktu -kembali ke jaman tahun 80 an saat dimana Google belum ditemukan, twitter masih di awang-awang, dan pendiri facebook masih seorang balita.
Saya masih ingat betul dimana cerita tersebut merupakan kehidupan impian setiap pemuda, paling tidak itulah yang saya pernah impikan. Hidup enak, uang tidak ada habisnya, orang tua pengertian, dikelilingi wanita-wanita cantik, dan memiliki transportasi mobil dengan logo kuda lumping dan lingkaran biru putih.
Pengalaman mempelajari kosa kata masa silam sedikit banyak membuat saya merasa menjadi tua, bahkan terkesan terlupakan. Namun kebaikan hati sang penulis yang menyisipkan penjelasan arti di tepi bawah halaman yang bersangkutan menjadi obat pengingat apa yang seharusnya menjadi humor saat saya masih duduk di bangku sekolah. Rio berhasil menyajikan keseimbangan dari dua sisi sang idola yang memiliki kelebihan dari segi materi dan kekurangan layaknya seorang manusia soleh yang taat beragama. Karakter pantang menyerah dan berani bertarung selalu dilengkapi dengan rembukan kasih sayang yang terkesan aduhai dan menyudutkan sang playboy untuk bisa menjadi obyek yang masih bisa dipercaya oleh setiap wanita.
Cinta, apa itu cinta, dan bagaimana mendapatkannya merupakan salah satu fokus dalam buku ini. Walaupun tidak setiap lembar mengobral hal tersebut namun setiap ada kesempatan menceritakannya, sang penulis sering terhanyut untuk mengeluarkan keinginan hatinya -seseorang yang masih belum dapat memberikan hatinya untuk yang "the one". Komitmen dia terhadap persahabatan dengan teman-temannya, Kendi dan Emon, memberikan suasana segar yang selalu relevan kapan saja buku ini dibaca.
Dalam mengakhiri pengalaman kembali ke masa silam ada pertanyaan di lembar terakhir dari buku Catatan Si Boy yang saya rasa layak untuk dijawab. Banyak hal yang tentunya menjadi pikiran saat saya keluar dari mesin waktu. Sebenarnya apa sih yang kamu cari? Jawabnya tentu ada di dalam hati anda masing-masing sang pembaca. Namun yang pasti karakter si Boy tidak akan pernah mati selama kita yang mendalaminya mau untuk selalu terbuka mencari jawaban arti cinta dan memegang tulus janji persahabatan kita dengan mereka yang kita banggakan atau hormati.
Sebagai penutup: Bagi saya, membaca buku Catatan Si Boy ternyata tidak hanya sepenggal mengerti kalimat yang saya baca, namun terlebih ingin mengetahui jalan pikiran dan nuansa impian Rio Haminoto. Salah satu karakter yang saya banggakan dari pribadi Rio adalah keinginan dia untuk berbuat yang terbaik bagi teman-temannya, karakter yang sedikit banyak sejalan dengan penghayatan yang dimiliki si Boy. Saya hampir dapat memastikan jika karakter si Boy yang seringkali terkesan "Too good too be true" bukan sesuatu yang begitu sulit untuk didapat dari sang penulis sendiri. Congratulations on your exciting back to the future book!
Terima kasih bagi mereka yang telah memberikan impian tentang si Boy menjadi realitas -untuk kedua kalinya. Saya sangat beruntung dapat duduk diantara keduanya: Rio dan Wanda.





