Satu hal yang timbul di benak saya saat pertama kali berkunjung ke Politikana adalah bagaimana saya bisa menjadikan Politikana sebagai tempat untuk mendapatkan banyak informasi tentang Pemilu 2009. Berhubung saya tinggalnya jauh dari Monas dan seringkali tidak banyak mengerti tentang hiruk pikuk caleg, capres, dst yang minta dipilih, padahal sebentar lagi saya harus memilih salah satu dari mereka, maka saya merasa beruntung bisa terdampar di tempat ini.
Namun setelah beberapa hari celingak-celinguk, hanya informasi dari Roby Muhamad saja yang bisa memberikan tambahan tentang profil dari mereka yang sedang saya cari. Perlu ditambahkan juga kalau Herman Saksono telah menjadi sumber informasi yang bagus tentang ulasan beberapa partai politik, tapi sayangnya tidak semua partai mendapat ulasan yang menyeluruh. Lalu dengan sedikit menyesal saya iseng-iseng membaca tulisan-tulisan yang tidak ada hubungannya dengan Pemilu 2009 atau bahkan bisa dikategorikan diluar OOT (sudah jauh banget intinya dari politik). Mulai dari permintaan anonimasi user dari Pedyanto sampai membincangkan tentang fenomena tieblumphd. Reaksi saat membaca artikel maupun komentar beragam, mulai dari mengernyitkan kening sambil manggut-manggut sampai pernah hampir jatuh dari kursi karena tertawa membaca yang “garing”. Lalu saya bertanya dalam hati, “Apakah semua orang yang membaca atau menulis komentar di Politikana adalah orang waras?” Jika anda tahu jawabnya silahkan ditulis di komentar bawah.
Terlepas dari didapatkannya hal-hal aneh dan diluar konteks Pemilu 2009 di Politikana, secara tidak disengaja saya membaca artikel dari Yudiantoro tentang Kapan Seharusnya Kita Mulai Belajar Politik? Lalu saya berpikir jika jawabannya sebenarnya lumayan simpel. Kita mulai belajar politik saat kita belajar untuk melihat perbedaan dengan sesama kita dan belajar untuk menerima perbedaan sebagai sesuatu yang dirayakan, baik dalam suku, agama, ras, maupun gender. Kalau kita bisa secara bersopan santun memberi tanggapan atau kritik terhadap mereka yang kita salam melalui jumpa komentar, saya rasa sudah merupakan pembelajaran politik dalam hal yang sebenarnya dan secara sederhana.
Apakah mungkin kita menjadi pandai dalam hal berpolitik? Tergantung masing-masing individu. Ada yang bisa menjadi pandai karena memang orangnya senang berbicara di depan podium, ada juga yang memahami seluk-beluk politik tapi maunya hanya selalu di belakang layar, atau mungkin mengerti teori ilmu politik itu sendiri dan dapat dengan seksama mengajar di depan kelas. Itu semua ada tempatnya masing-masing. Tapi yang penting bagi kita yang tidak mengejar dunia politik sebagai pekerjaan tetap, namun yang sadar akan pengaruh politik dalam kehidupan keseharian, kita masih dapat berpartisipasi juga. Dimanapun kita berada yang kebetulan dipertemukan melalui internet sudah saatnya belajar berpolitik dengan bersopan-santun saat membicarakan apa saja. Kita tidak akan selalu benar dan kita tidak akan selalu tahu jawaban atas semua pertanyaan yang dilontarkan. Mungkin bersepakat untuk tidak sepakat merupakan jalan akhir dari suatu perdebatan. Namun apa yang kita masing-masing dapat lakukan adalah melihat kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam diskusi yang baik dan bermanfaat.
Karena kalau kita bisa bersikap dewasa dalam hal bertukar pendapat, menghormati apa yang partner diskusi ungkapkan, maka kita sudah menjadi contoh bagi mereka yang melihat perilaku kita di dunia maya (termasuk mereka yang senang “duduk di pinggir”). Lalu apa bagusnya dengan melakukan cara demikian? Percaya atau tidak, kita secara tidak langsung menciptakan Politikana sebagai suatu tempat dimana berbicara politik bukanlah sesuatu yang tabu dan yang harus berakhir dengan bakar-bakaran. Cukup hanya dengan tulisan, kalau ada yang mau mengumpat silahkan tapi tidak ada yang harus "cidera". Ini juga penting sebagai contoh bagi generasi penerus kalau mereka dapat membicarakan politik dengan nyaman dan menyampaikan aspirasi politik mereka tanpa rasa takut. Karena mengeluarkan pendapat adalah hak asasi mereka sebagai manusia.
*Link ke Politikana
(Picture from plu.edu)