Kebersihan Itu Hak Siapa?
Setelah dua jam di perjalanan dari kota Siantar ke Tarutung, saya tiba-tiba ingin mencari pompa bensin atau restoran yang ada toiletnya. Ada keperluan mendesak yang harus dikabulkan. Dan kebetulan ada pompa bensin yang tidak jauh dari kota Parapat.
Saat tiba di lokasi saya langsung berlari kecil menuju toilet yang terletak dibelakang. Saat membuka pintu toilet, tiba-tiba saja niat untuk "appointment" tersebut diurungkan. Busyet!! Bagaimana tidak, saat pintu dibuka, bau tengik langsung menampar muka saya (bukan hanya hidung). Saat melongok ke dalam tong biru (lihat gambar), ternyata ada disitu endapan kawah, mungkin lumpur, yang jika saya beranikan untuk memakai airnya maka yang ada kulit pantat saya bisa korengan. Dengan kesal dan sambil mengatur napas, sayapun kembali ke mobil. Beberapa orang di mobil komentar, "Kok cepat?" Jawab saya, "Ditunda sampai rambu berikutnya saja".
Pengalaman diatas bukanlah yang terakhir yang saya alami selama liburan kemarin ini. Menurut saya, pergi ke toilet adalah sesuatu hal yang sangat basic. Cepat atau lambat, orang pasti akan memakai jamban/toilet untuk menyelesaikan desakan alami mereka. Kenapa orang-orang kita, rakyat Indonesia, tidak merasa risih mempunyai toilet yang kotor. Bagaimana turis lokal/asing bisa betah berkunjung di tempat pariwisata di Indonesia jika mau buang hajat saja tidak bisa. Apakah kebersihan itu sesuatu hal yang mahal? Apakah membicarakan kebersihan toilet adalah hal yang layak untuk diindahkan? Apakah saya berhak akan kebersihan?Saya berhak atas kebersihan, anda juga berhak atas kebersihan! Pertanyaannya adalah apakah anda mau?
Sekarang lagi ramainya dibicarakan bagaimana daerah-daerah yang ingin memisahkan diri membuat kabupaten sendiri, dan bahkan propinsi. Mereka berniat membangun daerahnya dengan memajukan pariwisata setempat.
Wahai perwakilan rakyat daerah: jangan muluk-muluk dengan keinginan anda untuk mendapatkan pendapatan dari sektor pariwisata. Berikut dibawah ini adalah masukan dari saya:
1. Masyarakatkan dulu hidup bersih kepada rakyat. Tarik benang merah yang menghubungkan keadaan iman seseorang dengan tanggung jawab mereka dalam menjaga kebersihan dimanapun mereka berada.
2. Jangan hanya produksi gambar tempel, yang sering saya lihat di toilet umum, dimana tertulis "JAGALAH KEBERSIHAN" namun yang kita lihat di kakus, maaf, pisang goreng yang terlalu lama digoreng! Buatkan peraturan yang mendorong masyarakat /pemerintah daerah untuk cinta bersih dan takut kotor.
3. Bangun toilet umum yang memadai, dari air, sampai orang yang bertanggung jawab atas pemeliharaan kebersihan toiler itu sendiri. Lakukan kunjungan mendadak ke toilet umum. Kencing disitu lalu jangan lupa berak juga disitu. Ini perlu dilakukan bagi wakil rakyat daerah agar supaya terkenang pengalaman memakai toilet umum. Sehingga dana pembangunan dapat betul-betul dikucurkan jika anda merasa tidak enak jongkoknya.
4. Adakan lomba kebersihan dan sejenisnya untuk menggairahkan keinginan hidup bersih. Berikan hadiah yang ada hubungannya dengan kebersihan.
5, 6 dan seterusnya minta masukan dari anda yang membaca blog ini.
Jika ada yang berpikiran tentang permintaan saya ini wajar atau tidak? Maka saya akan menjawab dengan pengalaman cerita saya dibawah ini.
Diawal '80 an, saya sering berkunjung ke Wonosobo, kota kecil, di kaki pegunungan Dieng Jawa Tengah. Kotanya apik dan bersih. Sampah tidak bisa saya temukan di jalan sama sekali. Kalau menginap di losmen disana kita harus keluar kamar untuk mandi (shared bathroom). Satu hal yang saya ingat sampai sekarang adalah kebersihannya. Mulai dari jalan, pekarangan, sampai kamar mandinya! Bak mandinya (tempat menampung air) bukan dari porselen, hanya semen yang dicat. Tapi airnya bening dan sangat bersih. Lantainya pun tidak berlumut sama sekali. Orang-orang yang tinggal disana sangat sederhana namun selalu ceria. Mereka tidak punya banyak namun dengan apa yang mereka miliki mereka dapat memberikan gambaran bagi pendatang ke kota mereka jika Wonosobo adalah suatu komunitas yang indah dan pantas untuk dikunjungi.
Terus terang saya sudah lama belum mengunjungi kota Wonosobo lagi. Namun itulah yang saya ingat tentang kota tersebut. Jika ada yang mempunyai pengalaman ke sana baru-baru ini, akan saya hargai jika bisa memberikan gambaran terakhir tentang kota tersebut.
Nah, intinya adalah bahwa ada kota di Indonesia yang bisa mencapai "standard" saya sebagai turis. Tidak muluk-muluk, namun permintaan basic yang mengesankan hati.
Semoga bagi mereka yang mempunyai jabatan atau kewenangan dengan pertumbuhan pariwisata daerah di Indonesia dapat menerima masukan ini sebagai masukan yang jujur dari saya -turis di negara sendiri.
Dan sekali lagi, kebersihan itulah adalah hak anda yang hanya bisa anda peroleh jika anda mau!











5 comments:
Memang hal itu mudah, tapi kalo inisiatif/ide dicampur dengan birokrasi dan etika kerja pemda, wah hal itu tidak pernah match. Saya kebetulan pernah berurusan/bekerja dengan pemda. Pegawai pemda selalu menanyakan: "apakah ada dananya?". Kalo belum ada dananya maka tidak akan ada yang gerak. Misalnya mau dianggarkan, maka harus nunggu minimal tahun depan tuk dimulai. Itupun dananya udah dimark abis2an dimana satu kegiatan kecil bisa menghabiskan dana sebesar harga mobil Kijang.
Kalaupun ada yang inisiatif, ga ada gunanya. Belum tentu mereka naik gaji atau pangkat gara2 inisiatif. Malah mungkin dikira sok2an dan dipinggirkan dengan teman yang lain. Kalo udah dipinggirkan gimana mau naik pangkatnya.
Ini hanya pengamatan dari orang luar aja, mungkin orang yang benar2 kerja di Pemda bisa lebih tau situasinya.
Itulah kelemahan implementasi, setiap lini masyrakat dan pemerintah seyogyanya bisa sadar..
kalau dikembalikan pemikirannya bahwa negara, kampung halaman itu ibarat rumah sendiri.. kalau jorok bin kotor, siapa yang mau mampir? terlepas dari dana-nya ada atau tidak.. berbuatlah yang terbaik.
Moga2 tulisan ini bisa menggugah banyak kalangan disana..
Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari Afrika Barat
--------------
PS: Ohya, Warung yang lama ini akhirnya kembali di buka, setelah lama di tinggal mudik.
info wonosobo: kota itu masih bersih sampai sekarang. bupatinya juga masih 'miskin' hingga kini. saya tahu, bupatinya baik, tidak kemaruk. makanya, tanpa modal memadai, dia menang mutlak dalam pilihan langsung, tahun kemarin.
yang menyedihkan, pohon-pohon besar di alun-alun wonosobo sudah meranggas menyusul insiden 'kebakaran' pasar di dekat alun-alun. karena pasar habis, para pedagang dibuatkan pasar darurat di alun-alun. tapi, begitu pembangunan kembali hampir selesai, insiden 'kebakaran' terulang kembali. pasar di alun-alun ludes, berikut pepohonan berusia ratusan tahun itu.
kenapa saya menyebut 'kebakaran', karena isu yang beredar di masyarakat wonosobo, ada motivasi proyek di balik hangusnya harapan akan penghasilan para pedagang itu.
btw, URL Sampeyan saya link ke 'rumah' saya, ya.... syukur, USL-ku juga di-link balik.
salam kenal, om....
Seorang kawan dimintai tolong tim kampanye kandidat pilkada. Dia diminta merumuskan pesan untuk penegakan syariat. Kawan saya menyodorkan ini untuk tema kampanye: "pasar yang bersih". Bersih lingkungannya, benar timbangannya. Sodoran kawan saya ditolak. :)
hallo barry pulang ya ke Indo wow gambarna itu toilet :) salam sukses ya Barry
Post a Comment